Hello Void - Sebuah Cerita Pendek
alone....
floating in void....
no light, only darkness
no hope, only despair
Kita selalu berpikir apakah ada makhluk hidup seperti
kita disana. Di luar angkasa yang jauh disana. Apakah mereka makhluk yang sama
seperti kita? Manusia?
Angkasa itu sangat luas, aku yakin. Sangat yakin bahwa
ada bumi yang seperti tempat tinggalku di luar sana dan mereka sama seperti
kita, manusia. Tidak hanya itu, melainkan sama seperti kita satu banding satu,
mereka mungkin adalah kita tetapi berada di tempat yang jauh disana.
Aku memiliki banyak pertanyaan :
“Mengapa jarak kita jauh? apa karena memang kita itu
tidak ditakdirkan untuk bertemu sama sekali dengan manusia bumi lain?”
“Lalu bagaimana dengan yang lain? mengapa semesta ini
luas tetapi banyak planet yg kita temukan tidak bisa dihuni.”
Itu terlintas di pikiranku untuk pertama kali ketika
diriku melihat bintang ketika langit malam terang di depan rumahku. Keingintahuanku
memang besar.
“Itu sebuah karunia.”
Begitu kata ibuku.
“karunia” itu jawaban ibuku. Aku tidak mengerti maksud
kata itu, terdengar asing bagiku. Aku berpikir apa maksud kata itu, tetapi aku
tidak bertanya kembali.
Diriku yang masih kecil terdiam. Melihat ibuku yang
menunduk tersenyum kepadaku. Senyuman tulus itu, tersimpan hingga ingatan
terdalam di pikiranku, hangat rasanya jika aku mengingat kenangan itu. Membuatku
tenang.
“Lalu ibu, apakah kita benar-benar sendiri di semesta
yang luas ini?” tanyaku penasaran.
“Ibu tidak tahu, tapi ibu yakin jika pasti ada makhluk
hidup diluar sana. Sebenarnya tidak hanya dirimu yang penasaran tentang hal
itu” kata ibu melihat angkasa.
Aku terdiam mendengarkan penjelasan ibuku.
“Banyak orang di dunia bertanya soal itu, apakah ada
makhluk di planet lain dan lain-lain. Tapi, yang terpenting itu ada disini,
kita adalah makhluk yang spesial bisa hidup di dunia yang luas ini” kata ibu
tersenyum melihatku kembali.
Seperti biasa, senyuman itu menghangatkan diriku di
dinginnya malam. Tidak ada tanda ragu, hanya senyuman tulus kepadaku.
Tetapi, dibalik semua jawaban yang ku dengar dari
ibuku memberikanku pertanyaan lagi di dalam pikiranku.
“Jika kita satu-satunya manusia di semesta, apakah
kita termasuk makhluk yang istimewa karena hidup di semesta yang luas ini? Walau
kita sebenarnya tidak sempurna?”
Pertanyaan itu selalu tertanam dalam diriku, sejak
diriku saat itu hingga sekarang. Benar, waktu telah berlalu, matahari terbit
dan terbenam ribuan kali sudah menjadi saksi bisu dari diriku yang memikirkan
hal itu.
Ratusan- tidak. Ribuan hari sudah berlalu telah
menjadi siklus ku. Kita hanya berdua, aku bersama ibuku sejak dimana diriku
sudah tidak bisa mengingat sosok ayahku. Sepertinya sudah tidak ada semenjak
aku mulai bisa berbicara. Begitulah apa yang kusebut dengan ‘keluarga’ hanya
diriku bersama ibuku. Kami akan terus bersama hingga nanti, atau begitulah yang
kupikirkan.
Hari yang kutakutkan datang, Ibu sudah tidak ada. Disinilah
diriku sekarang, sendirian.
Aku telah bertumbuh besar seiring tidak adanya ibuku.
“tidak sempurna” itu yang kugambarkan setelah melihat dunia ini, aku sudah
melihat segalanya. Dengan harapan tinggi aku berharap apakah ada sebuah alasan
besar mengapa kita tinggal di dunia ini, dan aku berhasil menyimpulkannya :
tidak.
Kita hanyalah makhluk kecil di semesta yang luas ini,
kita hanyalah butiran pasir kecil di botol yang berenang di lautan. Aku hanya
memiliki satu tujuan, pergi ke luar sana. Luar angkasa. Bertemu mereka.
Jauh dari sini, menemukan dunia baru.
“Misalkan aku berada di jauh sana, sendirian, melayang
di lautan angkasa yang tidak ada batasan ini. Apakah kita bisa bertemu?”
Itu yang terjadi pada diriku sekarang. Terdiam,
melayang tanpa tujuan di luar angkasa ini, tidak dapat bergerak aku membiarkan
diriku berputar. Aku tidak ingat bagaimana diriku bisa berada di situasi ini.
“Kepada siapa diriku berharap....
Itu yang kupikirkan.
...manusia lain? Tidak karena didalam pikiranku
hanyalah diriku saja yang ada. sepertinya memang aku ditakdirkan sendiri,
melayang diantara semesta yang sunyi dan gelap.”
Di balik helmku aku melihat banyaknya bintang-bintang
di luar sana. Aku hanya bisa mendengar suara napasku yang cepat dan tidak
terhenti lalu perlahan menjadi tenang melihat semua bintang itu.
“Dingin sekali”
“Sunyi.”
“Gelap.”
“Sendiri”
Kata-kata itu terngiang di dalam pikiranku. Menandakan
situasiku sekarang.
Bagaimana jika aku menutup mata? Apakah disana tetap
gelap seperti situasiku saat ini? Atau bercahaya seperti bintang yang kulihat? Jujur
walau diriku melayang disini aku merasa tenang, apakah ini aneh? Kurasa tidak,
aku tidak pernah merasa setenang ini semenjak malam itu.
Aku melihat sebuah cahaya terang didepanku, aku tidak
menyadari awalnya. Cahaya itu awalnya jauh lalu sekarang terlihat dekat
didepanku. Perlahan aku merasa cahaya itu mendekatiku.
Tetapi, aku penasaran cahaya apa itu yang membuatku
hangat. Aku tidak merasakan kedinginan dan kesepian, apakah ini memang seperti
yang kuinginkan? bahwa diriku ini sebenarnya tidak sendirian.
Aku memberanikan diri menutup mata di luar angkasa
yang sunyi, gelap, dan sepi ini. Aku merasa senang setelah sekian lama, tidak
bisa menahan senyum yang terukir di wajahku. Aku memeluk diriku yang melayang
sendirian, bagaikan bayi yang berada di dalam perut ibunya.
“ibu....aku mengerti.....
Bahwa kita sebenarnya tidak sendirian di semesta ini”
alone....
floating in void....
no light, only darkness
no hope, only despair
Kita selalu berpikir apakah ada makhluk hidup seperti
kita disana. Di luar angkasa yang jauh disana. Apakah mereka makhluk yang sama
seperti kita? Manusia?
Angkasa itu sangat luas, aku yakin. Sangat yakin bahwa
ada bumi yang seperti tempat tinggalku di luar sana dan mereka sama seperti
kita, manusia. Tidak hanya itu, melainkan sama seperti kita satu banding satu,
mereka mungkin adalah kita tetapi berada di tempat yang jauh disana.
Aku memiliki banyak pertanyaan :
“Mengapa jarak kita jauh? apa karena memang kita itu
tidak ditakdirkan untuk bertemu sama sekali dengan manusia bumi lain?”
“Lalu bagaimana dengan yang lain? mengapa semesta ini
luas tetapi banyak planet yg kita temukan tidak bisa dihuni.”
Itu terlintas di pikiranku untuk pertama kali ketika
diriku melihat bintang ketika langit malam terang di depan rumahku. Keingintahuanku
memang besar.
“Itu sebuah karunia.”
Begitu kata ibuku.
“karunia” itu jawaban ibuku. Aku tidak mengerti maksud
kata itu, terdengar asing bagiku. Aku berpikir apa maksud kata itu, tetapi aku
tidak bertanya kembali.
Diriku yang masih kecil terdiam. Melihat ibuku yang
menunduk tersenyum kepadaku. Senyuman tulus itu, tersimpan hingga ingatan
terdalam di pikiranku, hangat rasanya jika aku mengingat kenangan itu. Membuatku
tenang.
“Lalu ibu, apakah kita benar-benar sendiri di semesta
yang luas ini?” tanyaku penasaran.
“Ibu tidak tahu, tapi ibu yakin jika pasti ada makhluk
hidup diluar sana. Sebenarnya tidak hanya dirimu yang penasaran tentang hal
itu” kata ibu melihat angkasa.
Aku terdiam mendengarkan penjelasan ibuku.
“Banyak orang di dunia bertanya soal itu, apakah ada
makhluk di planet lain dan lain-lain. Tapi, yang terpenting itu ada disini,
kita adalah makhluk yang spesial bisa hidup di dunia yang luas ini” kata ibu
tersenyum melihatku kembali.
Seperti biasa, senyuman itu menghangatkan diriku di
dinginnya malam. Tidak ada tanda ragu, hanya senyuman tulus kepadaku.
Tetapi, dibalik semua jawaban yang ku dengar dari
ibuku memberikanku pertanyaan lagi di dalam pikiranku.
“Jika kita satu-satunya manusia di semesta, apakah
kita termasuk makhluk yang istimewa karena hidup di semesta yang luas ini? Walau
kita sebenarnya tidak sempurna?”
Pertanyaan itu selalu tertanam dalam diriku, sejak
diriku saat itu hingga sekarang. Benar, waktu telah berlalu, matahari terbit
dan terbenam ribuan kali sudah menjadi saksi bisu dari diriku yang memikirkan
hal itu.
Ratusan- tidak. Ribuan hari sudah berlalu telah
menjadi siklus ku. Kita hanya berdua, aku bersama ibuku sejak dimana diriku
sudah tidak bisa mengingat sosok ayahku. Sepertinya sudah tidak ada semenjak
aku mulai bisa berbicara. Begitulah apa yang kusebut dengan ‘keluarga’ hanya
diriku bersama ibuku. Kami akan terus bersama hingga nanti, atau begitulah yang
kupikirkan.
Hari yang kutakutkan datang, Ibu sudah tidak ada. Disinilah
diriku sekarang, sendirian.
Aku telah bertumbuh besar seiring tidak adanya ibuku.
“tidak sempurna” itu yang kugambarkan setelah melihat dunia ini, aku sudah
melihat segalanya. Dengan harapan tinggi aku berharap apakah ada sebuah alasan
besar mengapa kita tinggal di dunia ini, dan aku berhasil menyimpulkannya :
tidak.
Kita hanyalah makhluk kecil di semesta yang luas ini,
kita hanyalah butiran pasir kecil di botol yang berenang di lautan. Aku hanya
memiliki satu tujuan, pergi ke luar sana. Luar angkasa. Bertemu mereka.
Jauh dari sini, menemukan dunia baru.
“Misalkan aku berada di jauh sana, sendirian, melayang
di lautan angkasa yang tidak ada batasan ini. Apakah kita bisa bertemu?”
Itu yang terjadi pada diriku sekarang. Terdiam,
melayang tanpa tujuan di luar angkasa ini, tidak dapat bergerak aku membiarkan
diriku berputar. Aku tidak ingat bagaimana diriku bisa berada di situasi ini.
“Kepada siapa diriku berharap....
Itu yang kupikirkan.
...manusia lain? Tidak karena didalam pikiranku
hanyalah diriku saja yang ada. sepertinya memang aku ditakdirkan sendiri,
melayang diantara semesta yang sunyi dan gelap.”
Di balik helmku aku melihat banyaknya bintang-bintang
di luar sana. Aku hanya bisa mendengar suara napasku yang cepat dan tidak
terhenti lalu perlahan menjadi tenang melihat semua bintang itu.
“Dingin sekali”
“Sunyi.”
“Gelap.”
“Sendiri”
Kata-kata itu terngiang di dalam pikiranku. Menandakan
situasiku sekarang.
Bagaimana jika aku menutup mata? Apakah disana tetap
gelap seperti situasiku saat ini? Atau bercahaya seperti bintang yang kulihat? Jujur
walau diriku melayang disini aku merasa tenang, apakah ini aneh? Kurasa tidak,
aku tidak pernah merasa setenang ini semenjak malam itu.
Aku melihat sebuah cahaya terang didepanku, aku tidak
menyadari awalnya. Cahaya itu awalnya jauh lalu sekarang terlihat dekat
didepanku. Perlahan aku merasa cahaya itu mendekatiku.
Tetapi, aku penasaran cahaya apa itu yang membuatku
hangat. Aku tidak merasakan kedinginan dan kesepian, apakah ini memang seperti
yang kuinginkan? bahwa diriku ini sebenarnya tidak sendirian.
Aku memberanikan diri menutup mata di luar angkasa
yang sunyi, gelap, dan sepi ini. Aku merasa senang setelah sekian lama, tidak
bisa menahan senyum yang terukir di wajahku. Aku memeluk diriku yang melayang
sendirian, bagaikan bayi yang berada di dalam perut ibunya.
“ibu....aku mengerti.....
Bahwa kita sebenarnya tidak sendirian di semesta ini”

Komentar
Posting Komentar